Skynesia project

Forum yang (rencananya) jadi basement skynesia
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Similar topics
Latest topics
» Halo halo halo
by Andy Sat Jun 29, 2013 1:06 am

» [VX-Tribute] #1 - Something to Protect
by Aldair Tue Apr 09, 2013 8:49 pm

» Story - RPG Maker XP tribute - Shadow over Entraria
by Aldair Thu Feb 28, 2013 7:45 pm

» Salam kenal :D
by Heartbreak61 Fri Feb 15, 2013 4:35 am

» [VX]Marvelous Adventure Hero Overture
by superkudit Mon Jan 28, 2013 6:28 pm

» datang tiba2 =="
by superkudit Fri Jan 11, 2013 9:53 pm

» [NeedBrainstorming]Endless Edge~
by System Sat Jan 05, 2013 7:26 pm

» Hello Guyz ...!
by Andy Sat Sep 29, 2012 11:04 pm

» Pleasure to Join with You Guys!
by Aldair Mon Apr 23, 2012 5:20 am

» need komeng
by Nacht Mon Mar 19, 2012 5:56 am

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Statistics
Total 82 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah Yerry

Total 998 kiriman artikel dari user in 209 subjects
User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 9 pada Sun Dec 26, 2010 9:31 pm
Affiliates
free forum

Share | 
 

 [VX-Tribute] #1 - Something to Protect

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Aldair
Level D


Jumlah posting : 114
Dyns : 12896
Join date : 26.12.10

PostSubyek: [VX-Tribute] #1 - Something to Protect   Tue Apr 09, 2013 8:49 pm

#1 – Sesuatu Untuk Dilindungi

Ralph berjalan melewati sebuah jalan berbatu halus di tepi sebuah sungai. Rambutnya pirang kemerahan agak panjang sehingga rambutnya menutupi alis dan setengah telinganya. Ia memakai baju lengan pendek berwarna putih kebiruan dan rompi kulit berwarna coklat muda.
Ia membawa pedang di pinggang kirinya.

“Sejauh mana sih kotanya?” batin Ralph sambil membaca sebuah gulungan.
Ia melihat gulungan itu sekali lagi dan membacanya.

Request dari Wali Kota Riverton. Para bandit sedang mendiami hutan di dekat kota Riverton, sering mengganggu keamanan penduduk kota. Hancurkan sarang itu dan kami akan memberikan imbalan 500 keping emas.

“500 keping emas, cukup buat hidup selama tiga bulan nih” gumam Ralph.

Hari sudah sore, mata hari yang berwarna merah jingga mulai merayap turun di horizon. Suara burung dan deru air sungai meramaikan sore yang sepi di jalan itu.

Ralph terus berjalan sampai ia melihat rumah-rumah yang tampak kecil di kejauhan. Ia menoleh ke samping dan melihat sebuah papan tanda.

Riverton, 1 km, Capital 70 km

“Akhirnya, sampai juga!” gumam Ralph girang.

Para penduduk kota yang berada di town center mulai mengemasi barang mereka. Hari sudah mulai malam, mereka menaruh barang-barang dagangan mereka di kereta kuda lalu pulang ke rumah mereka masing-masing.

Di dekat sana ada sebuah bar dimana orang-orang berkumpul melepas lelah setelah bekerja seharian. Ralph memasuki bar itu dan menuju ke seorang bartender yang sedang sibuk mengelapi gelas.
Suasana bar itu begitu ramai, orang-orang saling bercanda tawa sambil mengangkat mug mereka. Seolah-olah beban-beban di wajah mereka telah terangkat.

“Hei bartender, minuman apa yang spesial dari bar ini?” tanya Ralph.

“Aku bisa menawarkanmu racikan Elves’ Tears,” jawab bartender itu sambil meletakkan gelasnya dan mengambil gelas lain.

“Elves’ Tears?”

“Ya, racikan Ale terasa seperti air mata seorang peri yang lembut. Kamu akan terbang dalam dunia fantasi jika meminumnya.”

Ralph mendesah. “Minuman bodoh macam apa itu?” pikirnya.

Bartender itu melirik Ralph sambil mengangkat alisnya. Seolah sedang menunggu jawaban dari Ralph.

“Bir biasanya saja lah!” Ralph memutuskan.

“Oke,” kata bartender itu sambil mengambil botol kocok. Lalu ia mulai mencampur bir-bir itu di gelas kocok lalu mengocoknya. Setelah selesai, ia menuangkan birnya ke dalam gelas besar lalu mendorongnya di meja bar sehingga meluncur ke arah Ralph.

Ralph menghentikan laju gelas itu dengan tangannya. Ia lalu mengambil seteguk bir itu.

“Ahh... kesegaran bir memang tidak bisa dibandingkan dengan segalon air,” batin Ralph.

“Hei bartender!” panggil Ralph lagi. “Aku dengar ada bandit yang bersarang di sekitar sini.”

Bartender itu datang mendekati Ralph dan berbisik. “Shh... jangan keras-keras. Kita bisa habis kalau ada mata-mata bandit yang mendengarnya.”

Bartender itu lalu melirik ke kanan kiri memastikan kalau tidak ada yang memperhatikan mereka. “Boleh aku bertanya siapa anda?”

“Namaku Ralph, dari guild petarung di ibukota,” jelasnya.

Bartender itu terkejut setengah tidak percaya. Bagaimana bisa seorang anak muda seperti Ralph adalah orang dari guild petarung.

Ralph hanya tersenyum setelah melihat raut muka bartender itu. Lalu ia mengambil gulungan dan meletakkannya di atas meja.

“Ini adalah permintaan dari wali kota ini, katanya kami harus menghancurkan sarang bandit yang meresahkan itu,” jelas Ralph.

Bartender itu terkejut melihat gulungan itu, disana terdapat tulisan permintaan lengkap dengan setempel guild petarung resmi di bagian bawahnya.

Tiba-tiba pintu bar itu didobrak dengan paksa. Suara dobrakan pintu itu membungkam keramaian bar. Suasana riang berubah drastis menjadi tegang setelah tiga orang berbadan besar memasuki ruangan itu. Salah satu dari mereka membawa bangkai rusa yang berlumuran darah. Mereka sepertinya adalah seorang bandit.

Orang yang membawa rusa itu lalu melemparkan bangkai rusanya di lantai bar. Membuat para pengunjung bar merasa jijik.

“Maafkan aku bartender, aku harus menaruh hasil buruanku disini,” kata orang berambut panjang dan berkumis itu sambil menggigit rokoknya.

Seorang pengunjung yang duduk didekat situ melihat mereka dengan tatapan takut bercampur jijik.

“Kenapa?... Kau tidak terima?” kata temannya yang memiliki rambut spiky sambil mencengkram krah salah pengunjung bar itu.

“Minggir kau!” kata bandit berambut mohawk sambil mendorong seorang penunjung hingga jatuh dari kursinya. Bandit itu lalu menduduki kursi itu. “Hei bartender, tiga mug Elves’ Trears!” teriaknya.

Pria berambut spiky itu lalu melempar pelanggan yang dicengkramnya dan duduk di bangku kosong di dekatnya.

Sementara pria berambut panjang itu tertarik dengan Ralph. Ia lalu berjalan mendekatinya.
“Lho..lho...lho... siapa ini?” katanya. Ia lalu duduk di samping Ralph. Ia menghisap rokoknya dan meniupkan asapnya ke arah Ralph.

Sementara itu Ralph hanya menutup hidungnya lalu mengibas-ibaskan tangannya untuk menghilangkan asap itu.

“Hei anak muda!” teriak pria itu. Namun Ralph mengacuhkannya, pandangannya hanya tertuju pada segelas bir di depannya.

“Hei anak muda, apa kau tuli?” kata pria itu lagi dengan nada marah. Tangannya mencengkram pundak Ralph.

“Jangan sentuh!” tegas Ralph.

Pria itu tersenyum sinis. “Kau belum tau siapa...”

Sebelum meneruskan kata-katanya, Ralph memukul pria itu hingga terjatuh. Rokoknya terlempar jatuh ke lantai.

Semua orang yang ada di sana terkejut melihat tingkah Ralph yang begitu berani.

Bandit yang berambut mohawk pun berdiri dari tempat duduknya. “Hei... mau cari gara-gara ya?” teriaknya.

Ia lalu mengambil botol bir dan memukulkannya ke arah Ralph. Namun Ralph segera memegang tangan bandit itu lalu membantingnya melewati meja bertender hingga ia terlempar menabrak almari gelas.

Para pengunjung disana panik, mereka berlarian keluar meninggalkan bar. Sementara itu sang bartender hanya duduk meringkuk di pojok meja sambil gemetaran dan memegangi kepalanya.

Namun, ada seorang pelanggan yang sama sekali tidak bergeming. Ia tetap saja duduk sambil memejamkan mata di bangku sudut. Dia seorang pria, rambutnya sudah memutih, namun badannya masih terlihat kuat dan kekar. Ia memakai zirah ringan dan jubah berwarna coklat lusuh. Ia tampak sedang membawa sebuah pedang besar di punggungnya.

Bandit berambut spiky pun menyerang Ralph. Ia mencoba memukul namun Ralph dengan tangkas menangkisnya dan membuatnya terlempar dengan uppercut yang menghajar dagunya. Bandit itu terjatuh dan membelah sebuah meja.

“Beraninya kau menghajar tiga srigala pembunuh,” kata bandit berambut panjang itu sambil berdiri. Ia mencabut pedangnya. “Kali ini kau akan mati!” ancamnya.

Ia lalu menyerang Ralph dan menebaskan pedangnya dari atas. Namun Ralph segera menahannya dengan menjepit ujung pedang itu dengan kedua tangannya.

Ralph memakai sarung tangan kulit dan ada pelindung besi di di punggung tangannya. Ia memandang bandit itu dengan tajam, lalu ia memotong pedang itu dengan tangannya.

Bandit itu terkejut, namun Ralph segera menendangnya hingga bandit itu jatuh berguling-guling terseret sepanjang ruangan.

Dari atas meja bartender, Bandit mohawk melompat sambil mengangkat pentungan berdurinya. Ralph hanya mundur selangkah membuat pukulan bandit itu meleset. Sesampainya di bawah Ralph mencengkram leher bandit itu lalu mengangkatnya.

“Aku capek-capek datang dari ibukota dan kalian menganggu istirahatku?” kata Ralph sambil melempar pandangan tajam yang menusuk pada bandit yang dipegangnya. “Apa kalian sudah bosan hidup?!”
Ralph lalu melempar bandit mohawk itu sehingga mengenai temannya, si bandit spiky yang baru saja berdiri.

“Mon... monsteerrr!!!” teriak bandit berambut panjang itu. Ia barlari keluar bar dengan tertatih-tatih.

“Awas kau... ketua pasti akan membunuhmu!” ancam bandit spiky sambil memapah temannya keluar.

“Hei tunggu... barangmu ada yang tertinggal!” teriak Ralph pada para bandit itu sambil menoleh ke arah bangkai rusa itu. Namun para bandit itu terus berlari tertaih-tatih tanpa menoleh ke belakang.

Ralph kembali menuju meja bar dan meneriaki bartender yang sedang gemetaran itu. “Hei bartender, berhenti gemetaran disitu!” teriaknya.

Bartender yang gemetaran itu terkejut. Ia tidak sadar kalau pertarungan sudah selesai. Ia pun berdiri sambil menoleh kanan kiri. Melihat barnya yang kacau akibat pertarungan.

“K...Kau mengalahkan mereka?” tanya bartender itu.

“Yeah... seperti menginjak kecoa,” kata Ralph sambil memasang senyum kemenangan.
Si bartender pun terkejut lagi. Ia menatap Ralph tidak percaya.

“Mereka itu... mereka itu adalah tiga srigala pemburu. Mereka bisa menaklukkan kota ini sendirian,” jelas bertender itu.

“Para kecoa itu bisa menaklukkan kota ini sendirian?” respon Ralph tidak percaya sambil memasang senyum remeh.

“Dulu sewaktu mereka pertama kali tiba disini, para penjaga kota kami bertarung melawan mereka. Namun, mereka semua kalah hanya dengan mereka bertiga,” cerita bartender itu. “Sejak saat itu, para bandit sering datang kemari dan meminta ‘uang perlindungan’,” katanya sambil menggerakkan kedua tanggannya seperti sedang memberi tanda petik.

Tiba-tiba seseorang berdehem di belakang Ralph, ternyata dia adalah orang tua yang dari tadi duduk terdiam di pojokan ruangan.

“Sudah kuduga, anggota guild petarung pasti sehebat ini,” kata orang itu.

“Ah... biasa aja, saya baru gabung guild itu tiga hari yang lalu,” kata Ralph sambil tersenyum simpul.
Si bartender terkejut lagi. “Dia baru bergabung dengan guild petarung?... Tapi dia bisa mengalahkan tiga srigala?... sekuat apa guild petarung di ibukota?” pikirnya.

“Tapi...” sahut orang tua itu sambil memejamkan mata sebentar. “Ketua mereka adalah orang yang pantas diperhitungkan,” ia menatap tajam Ralph, membuat pria berambut pirang kemerahan itu terkejut.

Orang itu berbalik dan berjalan keluar bar. Namun sebelum benar-benar keluar ia berhenti sejenak.

“Ralph...” panggilnya. Membuat Ralph terkejut dan penasaaran -dari mana orang itu tau namanya.

“Aku akan terus mengawasimu,” katanya. Lalu ia berjalan keluar bar.

“Hei tunggu!” teriak Ralph sambil berusaha mengejar orang itu. Namun saat dia tiba di luar, ia tidak menemukan dimana orang itu berada.

Ralph terdiam di depan pintu bar sambil bertanya-tanya. “Siapa orang itu? Kenapa dia mengetahui namaku?”

**

Sementara itu, tiga srigala itu tiba di sebuah gua di dekat hutan.

“Hei... apa yang terjadi?” teriak seorang bandit penjaga.

“Siapa yang melakukan ini?” kata panjaga lain dengan muka panik.

“Ada... ada monster di bar Riverton,” kata bandit perambut panjang itu.

“Sepertinya hanya ketua yang bisa mengalahkannya,” sahut bandit yang berambut spiky.

Tiga bandit itu akhirnya di bawa masuk ke dalam gua yang hanya diterangi cahaya obor itu. Mereka duduk bersandar di dinding gua.

Seseorang berjalan mendekati mereka. Para bandit pun minggir memberikan jalan kepada orang itu.
Si bandit berambut spiky terkejut akan kedatangan orang itu.

“Ketua!” kata merka serempak.

“Kalian memang pecundang,” kata orang itu. Suaranya terdengar seperti seorang wanita. Orang itu lalu datang sambil berjongkok di didekat bandit berambut panjang. “Jangan bilang kalian dihajar orang-orang kota itu hingga seperti ini.”

“Kami hanya dihajar oleh satu orang, dia begitu kuat,” jelas bandit berambut spiky.

“Sepertinya dia bukan orang kota itu...” tambah bandit berambut mohawk.

“Jangan bilang...” ujar seorang bandit dengan nada gemetaran. “Penduduk kota itu meminta bantuan guild petarung.”

Mendengar itu ketua mereka meremas tangannya sendiri. “Kalau begitu kita segera pergi dari sini,” katanya.

“Tapi ketua... kita tidak bisa membiarkan kota itu menyewa seseorang dari guild petarung,” kata seorang bandit mencoba memberi alasan.

Wanita itu berpikir sejenak lalu tersenyum. “Kau benar, aku harus membuat perhitungan dengan orang itu. Akan kubuat dia menghilang dari kota itu.”

Setelah berjalan mendekat pada sebuah obor, wajahnya kini terlihat jelas. Dia adalah seorang wanita berumur sekitar 18 tahun berambut pajang yang digerai. Ia memakai ikat kepala berwarna biru dan anting yang berbentuk seperti kristal yang panjang di telinga sebelah kirinya. Ia memakai baju berwarna merah terusan sepanjang bawah lutut namun di kanan kirinya ada belahan keatas sampai pinggang sehingga bisa membuatnya bergerak lincah. Di kedua pundaknya ada pelindung yang terbuat dari logam dan ia memakai zirah ringan untuk melindungi dadanya.

**

Di tempat lain, di sebuah rumah kota Riverton, ada seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun sedang duduk di lantai di dekat ranjangnya. Ia sedang membaca buku tebal yang di dalamnya ada tulisan berbentuk simbol-simbol. Di depan gadis itu ada sebuah boneka jerami yang ditancapkan di spons.

Gadis itu melihat buku itu. Ia membaca tulisan-tulisan simbol itu lalu menghafal urutan simbol-simbol itu sambil memejamkan mata. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang dilihatnya di buku itu. Lalu ia membuka mata dan melihat boneka jerami yang ada di depannya.

Ia mengarahkan tangan kanannya ke boneka itu. Matanya menyorot tajam, dahinya mengerut. Ia berkonsentrasi mencoba mengingat simbol-simbol itu di otaknya.

Tiba-tiba sebuah lingkaran sihir keluar di depan tangannya lalu keluar bola api kecil yang meluncur dan membakar boneka jerami itu.

Gadis itu terkejut, ia melompat panik. Ia kebingungan saat api membakar boneka itu dan mulai membesar. Ia lalu mengambil bantal dan memukul-mukulkannya pada boneka itu.

Gadis itu terbatuk-batuk gara-gara asap yang ditimbulkan api itu.

“Ylva, apa yang terjadi?” tanya ibunya yang tiba-tiba muncul di pintu kamar.

Ylva terlonjak kaget. Ia buru-buru menyembunyikan buku sihirnya di belakang tubuhnya.

“Tidak... tidak ada apa-apa kok,” katanya.

Ibunya hanya tersenyum. “Ya sudah kalau gak ada apa-apa, segera tidur ya, jangan sampai kesiangan.”
Ylva hanya tersenyum simpul.

Setelah itu ibunya pergi meninggalkan kamar. Ylva segera mengambil sapu dan secarik kertas bekas. Ia lalu membersihkan sisa-sisa abu hasil sihir apinya itu lalu membuangnya di tempat sampah. Setelah itu ia langsung melompat di ranjang dan membungkus dirinya dengan selimut.

Ylva memandang langit-langit kamarnya sambil berbaring. Dalam hati ia bertanya. “Apakah aku akan menjadi seorang penyihir hebat suatu hari nanti?”

**

Di tempat lain, di saat yang sama, di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya lilin, seseorang berjubah hitam dan bertudung sedang menghadap seorang pria berjubah panjang dan bertopeng.Topeng itu berwarna putih dan terdapat kristal berwarna merah di dahinya.

“Apakah kau sudah menyiapkan rencana kita?” tanya pria bertopeng itu.

“Rencana sudah siap tuan, kita tinggal melepaskan binatang itu di pagi hari,” jawab pria bertudung itu.
Pria bertopeng itu tertawa. “Baguslah... jika tidak seperti ini, kita tidak akan tahu seperti apa Riverton yang sebenarnya. Kita akan memancing orang itu keluar. Sekarang kau boleh pergi!”

“Baik tuan,” kata pria bertudung itu sambil melangkah pergi dari ruangan itu.

Pria itu lalu berjalan menelusuri koridor gelap, melewati sebuah sangkar yang didalamnya ada sosok makhluk besar yang sedang meronta. Leher dan kakinya diikat oleh sesuatu seperti tali yang bersinar keunguan. Ada dua orang lain yang bertudung dan berjubah hitam berdiri di depan sangkar itu. Kedua tangan mereka mengarah ke dalam sangkar dan lingkaran sihir berwarna keunguan berputar-putar di depan mereka.

“Jangan sampai makhluk itu mati,” pesan pria bertudung itu pada dua penyihir yang sedang mengikat makhluk itu.

**

Hari sudah mulai pagi, sinar mentari mulai menerobos awan-awan dari ufuk timur. Burung-burung berkicauan, dan para pedagang kota Riverton sudah mulai berdatangan di town center untuk membuka lapak mereka.

“Uahh... enak banget tidurnya,” kata Ralph sambil merentangkan badannya. Ia memakai piama berwarna biru muda dan topi tidur. Ia lalu mengambil handuk di almari baju dan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Ralph berjalan menuruni tangga menuju ke bar yang berada di lantai bawah.

“Selamat pagi Tuan Ralph,” sapa bartender berambut pirang itu dengan sopan.
Ralph menguap sambil merentangkan badannya sekali lagi. “Oi bartender... rajin banget bangun pagi-pagi,” katanya.

“Ya beginilah tuan Ralph, seorang bartender harus beres-beres di pagi hari dan buka di malam hari,” jelasnya.

“Wow... makanan untuk siapa itu?” tanya Ralph sambil menunjuk sepiring steak dan segelas susu hangat yang ada di meja.

“Itu untuk anda tuan Ralph, sebagai rasa terimakasih saya karena anda telah memberi pelajaran pada orang-orang itu,” jawab bartender itu.

“Hoho... terima kasih,” kata Ralph kegirangan. Ia segera duduk di kursi meja itu dan mengikatkan tisu makan di lehernya. Ia lalu mengiris steak itu dan mengincipinya.

“Mmm... enak, daging apa ini?” tanya Ralph.

“Daging rusa yang kemarin,” jawab bartender itu.

“Oh... pantesan, aku belum pernah makan daging seperti ini,” jelas Ralph sambil mengunyah dagingnya. Ia menelan daging yang dikunyahnya itu lalu ia menoleh ke arah bartender yang sedang mengelap meja itu. “Oi bartender, ngomong-ngomong, apa kau tau dimana sarang para bandit itu berada?”
Bartender itu terdiam sejenak. “Aku tidak tau pasti, tapi para penduduk kota bilang kalau mereka bersarang di sebuah gua di kaki bukit,” jelas bartender itu.

“Oh, begitu ya?” respon Ralph. Saat ia meneguk susu, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang wanita dari luar, disertai suara benda kayu yang rusak dipukul. Suara itu membuat Ralph kaget dan memuncratkan susunya.

“Uhuk...uhuk... ada apa ini?” tanya Ralph sambil terbatuk-batuk.

Bartender itu memasang wajah khawatir. “Mereka... mereka telah datang kemari... para bandit itu..”
Mendengar itu Ralph langsung bergegas keluar bar. Setelah tiba di luar ternyata memang benar. Para bandit sudah berkumpul di town center.

Ralph melihat seorang lelaki yang babak belur dan tergeletak di tanah sementara seorang bandit menginjakkan kakinya di perut orang itu.

“Hentikan!... Tolong hentikan!” teriak seorang wanita sambil merangkan mendekat menuju bandit yang menginjakkan kakinya di perut laki-laki itu.

Orang-orang di town center melihat kejadian itu sambil gemetar ketakutan.

Seorang bandit yang lain menendang wanita itu hingga jatuh tersungkur di tanah. “Diam kamu!...” teriaknya.

Bandit yang menginjak lelaki babak belur itu lalu berjalan menuju ke tengah-tengah kerumunan sambil tertawa.

“Ini adalah salah kalian sendiri...” katanya. “Kalian harus membayar dosa-dosa kalian karena telah menunda uang perlindungan kami dan menghajar tiga orang terbaik kelompok kami!”

Bandit itu dengan berani menunjuk acak kerumunan orang-orang itu dengan pentungan berdurinya. “Sekarang katakan! Siapa yang telah membuat gara-gara dengan orang kami? Akan kuremukkan kepalanya sekarang juga.”

Mendengar itu Ralph berjalan menuju ke tengah kerumunan.

“Akulah orangnya!” katanya dengan berani.

Para penduduk kota yang berada di sana terkejut melihat seorang anak muda berdiri di antara mereka ditambah sorot matanya yang memandang kerumunan bandit itu tanpa rasa takut.
“Nah itu dia, dia yang menghajar tiga srigala itu,” celetuk seorang penduduk.

“Benarkah?”

“Tapi apa dia bisa mengalahkan semua bandit itu?”

Suara penduduk kota mulai gaduh membicarakan Ralph.

Bandit yang mengacungkan pentungannya tadi meludah sambil memasang wajah mencemooh pada Ralph. “Ternyata cuman seorang bocah...”

“Hei... apa kau bisa mengalahkan kami semua?” ejek seorang bandit.

Ralph tanpa basa-basi langsung maju menyerang, ia menendang tangan orang yang membawa pentugan berduri itu sehingga membuat pentungnya terlempar di udara. Dengan sigap Ralph mengambil pentungan itu dan menghajar muka bandit itu hingga jatuh tersungkur di tanah.

Ralph dengan tangkas bergerak di terget berikutnya, ia tidak memberikan para bandit itu bahkan untuk terkejut sekalipun. Ia bergerak cepat, menghajar para bandit itu dengan pentungannya.

“Wow... hebat,” kata seorang penduduk.

“Dia benar-benar menghajar mereka semua!” timpal penduduk yang lain.

“Ayo maju terus tuan ksatria!”

Para bandit pun mencoba mengeroyok Ralph. Mereka melancarkan serangan demi serangan, namun Ralph menangkis mereka semua meskipun ada beberapa yang sempat mengenai Ralph.

Ralph bernafas terengah-engah saat bandit terakhir roboh di depannya. Namun masih ada seseorang yang masih berdiri di sana. Seorang wanita berambut panjang dan berikat kepala biru. Dia adalah sang ketua yang dibicarakan.

Wanita itu bertepuk tangan memberi selamat pada Ralph.

“Kau memang belum pernah berubah... Ralph,” kata wanita itu.

Ralph terkejut saat melihatnya, ia memandangi wanita itu tidak percaya.

“Ul... ULRIKA?!” teriaknya.

“Apa?... mereka sudah saling kenal?”

“Siapa orang itu?”

“Apakah dia sekuat Ralph?”

Para penduduk kota mulai berisik membicarakan dua orang yang sedang berdiri saling pandang itu.
Sementara itu, orang tua berpedang besar yang ditemui Ralph tadi malam sedang mengawasi mereka berdua dari atap sebuah rumah di kejauhan.

“Rupanya, kalian sudah bertemu, Ralph... Ulrika,” kata orang itu.

“Ulrika... kenapa kau ada disini?” tanya Ralph, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kenapa Ralph? Bukankah aku disini untuk melindungi kota ini?” jawab Ulrika dengan nada menyindir.
“Jangan bercanda!” teriak Ralph dengan nada tinggi. “Melindungi mereka?... yang ada; kau hanyalah memeras mereka, uang ‘perlindungan’? Jangan membuatku tertawa, Ulrika,” katanya dengan tatapan tajam. “Kau bukan Ulrika yang aku kenal!”

“Memang kenapa?” kata Ulrika sambil merentangkan tangannya. “Ulrika yang kau kenal sudah ‘kau bunuh’ sejak lima tahun yang lalu,” jawabnya dengan nada marah sambil mencabut dua pedang pendek dari sarungnya yang tergantung di pinggangnya. “Sekarang giliranku yang akan membunuhmu.”

Ralph menggeram, ia membuang pentungan berdurinya. Pentungan itu meluncur mengenai seorang bandit yang berusaha bangkit sehingga membuat bandit itu pingsan lagi.

“Baiklah jika itu maumu, Ulrika,” kata Ralph sambil tersenyum serius. “Aku akan menghidupkan Ulrika yang telah mati lima tahun yang lalu.”

“Coba saja!” tantang Ulrika.

Mereka berdua memasang kuda-kuda dan siap untuk menyerang. Ralph lalu mencabut pedangnya. Akhirnya pertarungan pun terjadi.

Ralph mencoba menebas Ulrika, namun ia menangkisnya. Ulrika melompat melewati tubuh Ralph dan melemparkan pedang pendeknya dari belakang. Namun Ralph berhasil menangkis pedang Ulrika sehingga membuat pedang itu berputar-putar dan jatuh ke tanah.

Ralph berbalik menyerang Ulrika, ia menebas-nebaskan pedangnya namun tidak ada satupun serangannya yang melukai Ulrika. Wanita itu dengan tangkas menangkis semua serangan Ralph.

Ulrika pun berputar dan menendang Ralph sehingga membuat Ralph terpental beberapa langkah kebelakang, namun tidak terjatuh karena Ralph menahan tendangan itu dengan pedangnya.
“Lumayan,” komentar Ulrika. “Tak kusangka kau menjadi sehebat ini.”

Ralph tersenyum. “Apa kau bilang kau belum mengerahkan semua kemampuanmu?”

Ulrika tertawa mendengarnya. “Jadi kenapa? Kau sudah kewalahan?” katanya. Ia berjalan menuju pedang pendeknya yang terjatuh dan memungutnya. “Aku tadi hanya pemanasan,” ujarnya lagi.

“Begitukah? Baiklah, sekarang aku akan membuatmu melakukan gerakan inti!” kata Ralph.

Lalu ia berteriak sambil menyerang Ulrika. Ia menebaskan pedangnya dari atas, Ulrika menghindar kesamping lalu menyerang. Ralph menangkis serangan Ulrika sehingga mereka berdua saling menahan.

Para penduduk desa melihat pertarungan itu dengan dada yang berdebar-debar. Mereka penasaran siapa yang akan menjadi pemenang pertarungan sengit itu. Namun ketegangan mereka dibuyarkan oleh suara teriakan seseorang.

“TOLOONG!! Ada monster!!” teriak orang itu.

Ralph dan Ulrika saling melompat mundur. Pandangan mereka tertuju pada orang yang berteriak itu.
“Hei ada apa?” tanya seorang penduduk pada orang itu.

“Ada monster, seperti bison bertanduk besar... dia mengamuk di jalan masuk selatan!” jawabnya.
“Bagaimana ini? Tadibandit... sekarang monster?” kata seorang penduduk dengan panik.

“Hei Ralph!” panggil Ulrika. “Pertarungan kita belum berakhir, tapi aku punya sebuah kota yang harus kulindungi.”

Ralph terkejut mendengar kata-kata itu.

“Hei kalian para kecoa, jangan bermalas-malasan!” teriak Ulrika pada para bandit yang masih berusaha berdiri. “Kalian bantu aku lindungi penduduk kota, siapa yang lari akan aku buru dan kucincang!”
“Ba.. baik ketua...” kata seorang bandit yang sedang berdiri sambil merintih kesakitan.

“Hei kalian!” teriak Ulrika lagi sambil menunjuk bandit lain yang sedang membantu temannya berdiri. “Kalian berdua ikut aku!”

Sebelum pergi, Ulrika melirik kebelakang. Ia memandangi Ralph yang sedang bengong. Dengan tatapan matanya yang tajam ia berkata pada Ralph: “ Oi Ralph... kau boleh tinggal disini dan berlagak seperti pengecut!” katany. Lalu ia bersama kedua anak buahnya berlari menuju ke jalan selatan.

Ralph memandang punggung gadis yang sedang berlari menjauh itu sambil tersenyum. “Ulrika... kau ternyata masih belum berubah...,” Ralph merunduk memandang ke tanah. “Kekhawatiranku ternyata sia-sia.”

Ulrika dan dua anak buahnya tiba di tempat di mana monster itu mengamuk. Seekor monster seperti bison dengan bulu banyak berwarna kuning muda. Kepalanya seperti kambing dengan tanduknya yang melingkar kebawah. Kakinya ada dua pasang, ekornya besar dan ujungnya memiliki bulu kemerahan yang tebal.

Para penjaga kota yang berada di sana tidak berani mendekati monster itu. Mereka hanya menghunuskan tombak mereka seolah sedang menakuti monster itu. Namun, monster itu tidak menampakkan rasa takut sama sekali.

“Buset, makhluk apa itu,” kata salah satu anak buah Ulrika.

“Aku juga tidak tahu, tapi aku belum pernah melihat yang seperti itu,” jawab Ulrika.

“Apa yang harus kita lakukan? Ketua?” tanya anak buah yang satunya.

Ulrika diam berfikir saat melihat makhluk itu menyeruduk seorang penjaga kota hingga membuat penjaga itu tercebur ke sungai.

Makhluk itu meraung, suara raungannya seolah memecah langit. Menimbulkan kengerian orang-orang yang berada di sana.

“Kita harus menghentikannya,” kata Ulrika. “Kalian berdua, amankan penduduk di sekitar sana. Aku akan melawan makhluk itu.”

“Baik, ketua!” kata anak buahnya patuh.

Mereka lalu berpisah. Ulrika maju menyerang makhluk itu sementara kedua orang anak buahnya berlari menyamping membantu para penduduk untuk berlari meninggalkan tempat itu.

Ulrika menyerang langsung ke arah makhluk itu. Dia melihat makhluk itu juga berlari ke arahnya.

Makhluk itu mencoba menyeruduk Ulrika, namun Ulrika berhasil menghindar dengan berguling ke samping sehingga membuat makhluk itu menabrak tembok rumah bertingkat dua.

Makhluk itu menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya ia pusing setelah menabrak rumah bertingkat dua itu. Rumahnya masih belum roboh, tapi temboknya berlubang dan banyak serpihan berserakan di mana-mana.

Ulrika mengambil kesempatan menyerang makhluk itu dari samping, ia melompat dan menusukkan pedangnya di perut makhluk besar itu, namun sepertinya pedang itu tidak begitu ngefek. Ulrika malah bergelayut di perut makhluk itu dengan pedangnya.

Makhluk itu meraung, meronta, sambil menggoyang-goyangkan badannya membuat Ulrika terlempar-lempar dan daratan di sekitarnya bergetar-getar. Akhirnya ia berhasil melemparkan Ulrika.

Ulrika terlempar dan jatuh bergulung-gulung di tanah. Makhluk itu berlari ke arahnya dengan begitu cepat sebelum Ulrika sempat bangkit berdiri.

Makhluk itu terus berlari menyerang, mendekat, suara deru kakinya menggetarkan bumi dan debu-debu beterbangan seiring derap kaki makhluk raksasa itu.

Ulrika memejamkan mata, ia menunggu sebuah kepala yang siap menabraknya. Namun, seseorang menyambarnya sehingga ia terlempar kesamping dan nyaris terinjak makhluk itu.

“Ulrika,... kau tidak apa?” kata orang itu.

Setelah Ulrika membuka mata, ia melihat Ralph berada di atasnya.

“Minggir kau!” kata Ulrika sambil mendorong Ralph kesamping.

Makhluk yang berlari itu berhenti dan berbalik arah. Mengincar para penduduk kota yang berlarian. Ralph dan Ulrika melihat makhluk itu dari jauh.

Ralph melirik Ulrika.

“Ada apa?” tanya Ulrika, mukanya sedikit memerah.

Ralph tersenyum sedikit mengejek. “Bukannya seharusnya seorang gadis berada di kamarnya sambil menangis di saat-saat seperti ini?”

“Hei apa maksudmu?” kata Ulrika marah-marah.

“Kamu diam disini saja dan lihat, bagaimana seorang lelaki menyelesaikan sesuatu,” kata Ralph dengan percaya diri.

Ia lalu mengambil sehelai kain berwarna merah yang berada di stand toko yang sudah rusak lalu berjalan mendekati makhluk itu.

“Hei banteng gondrong!” teriak Ralph sambil melemparkan batu krikil ke arah makhluk itu. “Akulah lawanmu!”

Makhluk itu berbalik arah. Rupanya Ralph berhasil menarik perhatiannya. Dia mendengus mengeluarkan udara dari kedua hidungnya dan kaki kiri depannya menggaruk-garuk tanah bersiap untuk menyerang.
Ralph melempar senyum tantangan pada mahkul itu.

Akhirnya, makhluk buas itu menyerang. Ia melaju kencang menuju ke arah Ralph.
Setelah makhluk itu cukup dekat, Ralph berguling ke samping. Ia berusaha menghindari monster itu dan menyerang ketika monster besar itu kesusahan memutar badan. Akan tetapi perhitungan Ralph keliru. Ekor besar monster itu menyambar Ralph hingga membuatnya terlempar dan menghantam tembok hingga roboh.

“RAAALLPH!” Ulrika berteriak sambil melihat kepulan debu-debu di tembok yang roboh itu.
Makhluk itu meraung dan matanya tertuju pada Ulrika. Ia mendengus dan mulai menyerang Ulrika.
Akan tetapi di balik kepulan debu-debu itu muncul seseorang. Ia melompat sambil menghunuskan pedangnya menuju ke leher makhluk itu.

“Heyaaaa....!” teriak Ralph sambil menghunuskan pedangnya ke leher monster itu. Menuju ke pembuluh nadinya. Akan tetapi..

“Sial, meleset!” umpatnya saat pedangnya menancap nyaris mengenai pembuluh nadi monster itu.
Ralph melompat turun saat makhluk itu meraung-raung sambil menggeliat liar. Sesampainya di bawah Ralph diseruduk oleh monster itu hingga terjatuh.

Monster itu mengangkat kakinya mencoba menginjak Ralph, namun laki-laki itu segera berguling sehingga nyaris terinjak.

Ralph segera bangkit dan berlari menjauh melewati kaki-kaki monster besar itu.

“Gila... bagaimana aku bisa mengalahkannya?” kata Ralph sambil terengah-engah. Badannya penuh memar.
Monster itu berbalik dan menghadap Ralph sambil meraung-raung.

Orang tua berpedang besar yang dari tadi hanya mengawasi kini sudah mulai bersiap. Ia sudah memegangi ganggang pedang besarnya namun ia mengurungkan niatnya saat ia melihat para bandit berlarian mendatangi monster itu dari belakang sambil berteriak-teriak.

“Ayo bunuh monster itu...!”

“Ayo kita jadikan monster itu steak sekarang juga!”

Para bandit itu lalu melemparkan tombak-tombak lembing mereka. Beberapa melemparkan panah berapi ke arah monster itu.

Tombak-tombak itu menancap ke tubuh makhluk itu, anak panah – anak panah panas mulai menghanguskan sebagian kulitnya.

Monster itu meraung kesakitan dan berlari ke arah kawanan bandit itu, membuat mereka kabur tak tentu arah. Beberapa dari mereka terseruduk, terlempar dan jatuh berguling-guling. Monster itu lalu mengibas-ngibaskan ekornya menyapu para bandit yang mengganggunya.

Kini monster itu makin tidak terkontrol, ia meraung-raung liar dan berlarian kesana kemari membabi buta. Menghancurkan apa saja yang ia lewati. Darah-darah bercucuran dari luka-luka lembing itu.
Tiba-tiba sebuah bola api raksasa menghantam monster itu, membuat ledakan besar sehingga membuat monster itu terguling.

Semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk Ralph dan Ulrika. Mereka mencari arah dari mana bola api itu datang.

Ternyata ada seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun memakai gaun ungu berambut pendek sebahu sedang berdiri disana. Tangannya membawa tongkat sihir dengan bola kristal berwarna keunguan di ujungnya.

“Ylva?...” kata salah seorang penduduk yang melihatnya.

“Dia... bisa melakukan itu?” kata yang lain tidak percaya.

Orang tua yang mengawasi dari jauh itu pun juga terkejut melihat ada seorang gadis yang bisa mengeluarkan sihir sehebat itu.

“Jangan-jangan?...” gumam orang tua itu dalam keraguannya.

Monster itu bangkit dan menggeliat kesakitan. Matanya kini tertuju pada gadis yang berdiri tanpa rasa takut itu. Monster itu pun berlari menyerangnya.

Ylva memejamkan mata sebentar sambil memegang tongkat sihir itu dengan kedua tangannya di depan. Lalu ia membuka matanya dan mengangkat tongkat sihirnya menunjuk ke langit sambil berteriak. Sebuah sinar berwarna kekuningan muncul di ujung tongkat itu. Lalu ia mengarahkan tongkatnya ke tanah dengan cepat.

Dari ujung tongkat itu tiba-tiba muncul cahaya yang merambat menuju monster itu seperti akar pohon. Cahaya itu berubah menjadi tali raksasa yang hidup dan mencengkram monster itu sehingga membuat monster itu susah bergerak.

Monster itu meraung-raung menggeliat mencoba melepaskan diri. Sementara itu tubuh Ylva gemetaran seperti sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

“Ralph... sekarang!” perintah Ulrika sambil berteriak.

Ralph hanya menjawabnya dengan anggukan.

Lalu mereka berdua berlari menyerang monster itu. Ralph melompat dan menusuk kepala monster itu, sementara Ulrika mengambil sebuah tombak yang tergeletak dan berlari menusuk leher sebelah kanan monster itu hingga tembus sampai memotong urat nandinya.

Monster itu meraung kesakitan dan akhirnya roboh setelah cahaya yang mengikatnya menghilang. Ralph melompat turun sementara itu Ulrika tetap diam mengikuti robohnya monster itu.

“Yeah...!!!”

“Akhirnya mati juga monster itu!”

“Kita tau kita bisa melakukannya,”

Para penduduk dan para bandit bersorak sorai melihat kemenangan itu. Mereka saling berpelukan. Kali ini mereka terlihat seperti orang biasa tanpa membedakan bandit atau bukan.

Ralph tersenyum senang sementara Ulrika turun dari bangkai monster itu. Mereka berdua lalu bersalaman. Tubuh mereka dipenuhi luka-luka memar setelah bertarung melawan monster itu.

“Terima kasih Ralph,” kata Ulrika sambil tersenyum.

“Ternyata kau masih belum berubah, Ulrika,” balas Ralph.

Orang tua yang mengawasi mereka berdua pun ikut tersenyum dari kejauhan.

Sementara itu tubuh Ylva gemetaran. Namun ia memaksakan diri untuk tersenyum. Penghilatannya mulai kabur, akhirnya ia terjatuh pingsan.

“Ylva...!” kata seorang penduduk sambil berlari menghampiri gadis itu.

“Minggir... minggir semua!” kata seorang wanita berambut panjang berwarna perak sambil mendorong-dorong orang yang ada di sana agar bisa lewat menuju gadis itu.

Orang tua berpedang besar itu terkejut setelah melihat wanita itu. “Sylvia...?” katanya.

“Ylva...Ylva...” kata perempuan itu sambil membalikkan badan Ylva yang tertelungkup dan menyandarkan kepala gadis itu ke pangkuannya. “Ylva... kamu tidak apa-apa?”

Ralph dan Ulrika ikut datang dan melihat kejadian itu.

Ylva mencoba membuka matanya dengan susah payah. “Apa... apa... monster itu sudah kalah?” bisiknya dengan nada berat.

“Kenapa... kenapa kau melakukan ini Ylva?...,” kata wanita berambut panjang itu sambil meneteskan air mata.

Ylva hanya tersenyum lalu jatuh pingsan lagi.

“Ylva...!” teriak wanita itu sambil mengguncang-guncang gadis itu, mencoba membangunkannya.

“Dia hanya pingsan Sylvia,” kata seorang penduduk. “Sebaiknya kau segera bawa putrimu pulang.”

Sylvia pun berdiri sambil menggendong putrinya. Bibirnya masih gemetaran dan air matanya mengalir di pipinya. Para penduduk pun minggir memberi jalan saat Sylvia melangkah pergi.

Ralph dan Ulrika hanya melihat mereka dengan iba.

Sementara orang tua yang mengawasi mereka dari kejauhan hanya memejamkan mata sambil tersenyum.
“Dia sangat mirip denganmu Sylvia...,” gumam orang itu. “Apa kau tidak mengerti? Dia mirip sekali denganmu...”
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
[VX-Tribute] #1 - Something to Protect
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Metallica tribute to Rhoma Irama - Begadang
» WTS jaket komine jk 529 full leather+protector

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Skynesia project :: Member Center :: Creativity Showcase-
Navigasi: